Home > Daily Life > Senyum Itu (Masih) Ibadah

Senyum Itu (Masih) Ibadah

Setelah berjalan di sebuah gang dan melewati sekumpulan orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan, seorang teman yang lahir dan besar di metropolitan menegur sambil bertanya heran: “Kenapa barusan kamu bilang punten dan tersenyum kepada orang-orang itu?”

“Biasa saja kok begitu”, jawab saya tanpa ingin berpanjang lebar dengan urusan remeh ini. Ia pun nampaknya tidak ingin bertanya lagi. Namun tersirat dari raut mukanya rasa heran melihat saya bilang permisi sambil tersenyum seraya menganggukkan kepala kepada sekelompok orang yang tak pernah saya kenal, yang sedang nongkrong di pinggir gang itu.

Saya tidak tahu persis. Bagi orang-orang yang lahir dan besar di kota besar dan belum merasakan hidup di kampung atau desa, mungkin akan menganggap ganjil melihat apa yang saya lakukan belasan tahun lalu itu, ketika masih kuliah di Bandung. Sekarang saya tinggal di (pinggir) kota Jakarta. Dan nampaknya saya mulai mengerti mengapa di kota besar bernama Jakarta ini yang namanya senyum mulai mahal harganya.

Seorang kawan yang lain kini tinggal di sebuah kompleks besar (juga di pinggir kota) Jakarta. Ia mengeluhkan sebuah kejadian yang berkali-kali ia alami. Ia mengaku sulit untuk tak ambil pusing setelah berusaha tersenyum ramah kepada tetangga namun sang tetangga dengan cueknya melengos. Ia jengkel. Rupanya bukan saya saja yang berkali-kali mengalami itu. Bahkan terus terang saya sempat menyesal mengapa memilih tinggal di sebuah kompleks yang mayoritas dihuni pasangan muda yang terlalu sibuk dengan urusan fulus sehingga aspek kehidupan sosial nyaris tersingkirkan. Saya tidak tahu, mungkin kejadian “biasa” itu lambat laun akan merubah saya menjadi manusia yang pelit senyum juga. Gejala awalnya kini saya sering berhati-hati dan lihat-lihat dulu orang sebelum melemparkan senyum.

Saat tulisan ini dibuat kebetulan saya sedang menghabiskan sisa liburan lebaran di kampung halaman yang tinggal beberapa hari lagi. Sepulang jumatan saya memutuskan untuk nongkrong di sebuah tempat di mana saya biasa mencari inspirasi. Tidak ada maksud khusus, hanya ingin ngopi-ngopi sambil sedikit bernostalgia.

Di tengah lamunan, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sapaan seorang lelaki yang tidak saya kenal yang berjalan melintas sekitar dua meter di depan saya. “Punten A’…”, sahutnya sambil tersenyum. “Mangga”, jawab saya sambil membalas senyuman dan anggukannya itu. Ia pun berlalu. Kupandangi langkahnya sambil menerawang ke kejadian masa lalu, yang menghadirkan kembali pertanyaan—atau tepatnya keberatan—sang teman akan ucapan ‘permisi’ yang saya ceritakan di awal tadi.

Kupandangi langkah lelaki itu, ada terselip rasa senang di hati. Rupanya ucapan ‘permisi’ plus senyuman yang sama sekali tidak sulit itu cukup memberi perasaan enak di hati orang. Tak usahlah kita pikirkan apakah senyumnya itu tulus atau tidak. Kita ukur saja sejauh yang nampak di permukaan.

Pantaslah senyum bernilai ibadah di sisi Allah. Bukankah sebuah hadis mengatakan ‘senyum manismu untuk muka saudaramu adalah sedekah untukmu?’ Ah, tapi mengapa manusia-manusia di kota besar semakin banyak yang pelit senyum? Bukankan mereka juga kebanyakan pendatang yang berasal dari kampung atau desa yang dermawan akan senyuman? Bagaimana caranya hiruk-pikuk kehidupan kota merubah mereka? Sudah pelit dengan harta, masak iya mau pelit juga sedekah senyum? Dan pertanyaan terakhir datang dari diri: apakah saya termasuk salah satu di antaranya?”

Tak terhitung jumlahnya Tuhan memberikan nikmat gratis dalam hidup kita, tapi mengapa untuk melemparkan senyum saja seringkali kita pelitnya bukan main… []

Categories: Daily Life
  1. Agan
    September 4, 2011 at 3:29 pm

    🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: