Zoroastrianisme, Agama Samawi?

Oleh: Irfan Permana P.

Setidaknya ada dua prinsip dasar dalam keyakinan Zoroastrianisme : pertama, ada hukum di dalam alam. Kedua, ada konflik di dalam alam. Penegakan hukum berlangsung terus menerus akibat adanya konflik yang terjadi di alam semesta ini. Dalam konsepnya, harus ada penyatuan antara kejahatan dengan kebaikan abadi Tuhan. Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa proses penyatuan kebaikan dan kejahatan itu tidak dipahami sebagai aktivitas yang mandiri, melainkan dua aspek dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, konflik tersebut adalah perjuangan Tuhan melawan diri-Nya sendiri. Jadi dapat dikatakan secara teologis bersifat monistis dan secara filosofis bersifat dualis.

Dalam menjelaskan konsep monistik, Zoroaster menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan sejati, Ahura Mazda, yang bersifat azali serta kekal selamanya. Dia adalah pencipta segalanya termasuk dewa-dewa lainnya. Dia adalah penganjur kebijaksanaan, keadilan dan kebaikan, yang mutlak terpisah dari unsur kejahatan dan kezaliman.

”Aku mengenal Engkau dalam pikiranku, wahai Mazda. Engkaulah yang awal dan yang akhir, Engkaulah satu-satunya yang patut disembah, sumber ajaran kebaikan, pencipta kebenaran dan keadilan, dan hakim atas semua perbuatan kami di dunia ini. Karenanya aku tempatkan engkau di hati sanubariku.” (Yasna 31:8)

Pengikut Zoroaster meyakini pula adanya ruh jahat, yaitu Ahriman, sebagai simbol dari kejahatan. Bagi mereka, alam semesta merupakan ajang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kezhaliman, serta antara kegelapan dan cahaya terang. Dan pertarungan sengit ini harus dimenangkan oleh kebaikan, keadilan dan cahaya.

Adapun manusia, sebagai mikrokosmos bergulat dengan dua kekuatan dalam dirinya. Manusia diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan, bebas berpihak kepada yang gelap atau yang terang. Manusia memiliki the freedom of choice. Namun, berdasarkan hukum sebab-akibat, manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya tersebut, serta siap menerima konsekuensinya.

Konsep ini rupanya mempengaruhi pemikiran Syaikh al-Isyraq, Suhrawardi, khususnya mengenai konsep cahaya dan gelap. Namun tidak sama persis. Jika dalam Zoroastrianisme, gelap dan terang seolah-olah dipisahkan oleh garis tegas yang mengindikasikan keterputusan hubungan –bahkan mengandung pengertian peperangan abadi antara keduanya–, maka tidaklah demikian dengan konsep gelap-terang Suhrawardi. Dalam filsafat iluminasi ini, konsep gelap-terang digambarkan sebagai rangkaian intensitas dari terang menuju gelap, dimana semakin jauh dari cahaya maka semakin redup akhirnya gelap. Intensitas cahaya tersebut menganalogikan hirarki wujud, dimana sumber cahaya menempati posisi tertinggi.

Terkait dengan api, Zoroastrian menyembah Ahura Mazda sebagai Tuhan cahaya. Api suci dinyalakan sebagai simbol cahaya Ahura Mazda yang keberadaannya terkait dengan proses penyucian jiwa. Zoroaster menegakkan kebenaran misinya dengan ancaman hukuman kepada para pendosa dengan api dan baja yang dicairkan kelak di hari akhir nanti. Perlu dipahami bahwa api di sini bukan berarti api dalam pengertian fisik namun merupakan api rohani dan api terpendam yang bersinar terang di hati setiap pengikut Zoroaster yang shaleh. Jadi terlalu sederhana jika dikatakan begitu saja bahwa mereka penyembah api.

Tradisi khas dalam agama-agama profetik, selain berbicara tentang eskatologi, hari akhir, dan sebagainya, yang paling menarik perhatian adalah tentang ekspektasi mesianik –penantian sang juru selamat. Betapa tidak, di antara tiga agama besar samawi terdapat kemiripan mengenai hal ini, terlepas dari fakta bahwa satu sama lainnya saling mempertentangkan. Orang-orang Yahudi dan Kristen berselisih tentang siapa sang juru selamat. Begitu pula dengan Islam. Yang pasti, ketiganya mempercayai akan datangnya seorang penyelamat di masa depan.

Lalu apa yang dikatakan Zoroaster mengenai sang juru selamat ini? Sangat menarik untuk disimak mengenai pandangan Zoroaster tentang kemunculan sang penyelamat ini.

Dalam beberapa referensi kitab Zoroaster, disebutkan beberapa kali mengenai kemunculan sang juru penyelamat agung. Misalnya dalam Zend Avesta[i] disebutkan bahwa kezhaliman (laskar Ahriman) setelah menguasai bumi ini pada akhirnya akan lenyap dan digantikan oleh kemenangan orang-orang shaleh (laskar Yazdan), setelah menempuh peperangan selama 9 tahun. Setelah Ahriman berhasil ditumpas, kebahagiaan sejati akan diperoleh dan manusia akan duduk di atas singgasana keadilan, dilimpahi kemakmuran.

Dalam kitab lainnya, Ghathas, dikabarkan berita gembira tentang kemunculan al-Mahdi. Dikatakan bahwa orang-orang berdosa akan mendapat balasan. Ketika tiba waktu yang dijanjikan, pemerintahan ilahiah akan tegak di bumi ini. Sebuah pemerintahan yang dipenuhi keadilan, yang dipimpin oleh Bahman sebagai delegasi dari Ahura Mazda.

Kemudian dalam buku Jamasb-nameh, setelah meramalkan kedatangan Nabi Islam SAW dan pemerintahan ilahiah al-Mahdi, dituliskan: ”Dari anak cucu putri Nabi itu yang dikenal dengan sebutan matahari dunia dan junjungan wanita semesta alam, akan muncul satu orang yang akan menjadi seorang raja di dunia ini dengan ketentuan dari Yazdan. Ia adalah pengganti terakhir Nabi itu di dunia ini, pemerintahannya akan berlangsung sampai kiamat. Ia akan menangkap Ahriman yang menentang Yazdan dan selalu bermaksiat kepadanya, lalu ia akan menghukum dan membunuhnya. Ketika kerajaannya usai, dunia akan berakhir, langit akan tergulung, bumi tenggelam, gunung-gunung musnah.

Kabar di atas sejalan belaka dengan apa yang kita dapatkan dalam hadits-hadits yang berkenaan dengan kemunculan Imam Mahdi. Saya kutip beberapa di antaranya, yaitu hadits dari jalur Ahlussunah:

Dari Abu Sa’id r.a. dari Nabi SAW, bersabda:”Al-Mahdi itu dari keturunanku, keningnya luas, hidungnya mancung, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi itu dipenuhi oleh kezaliman dan kecurangan, ia berkuasa selama tujuh tahun.”(HR. Ahmad, Ibn Abi Syaibah, Ibn Majah, Nu’aim ibn Hammad, dan al-Hakim)    Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata:Rasulullah SAW mengingatkan: “Akan menimpa ummat ini suatu bencana sehingga tidak ada tempat untuk berlindung yang dapat melindunginya dari (tindak) kezhaliman, kemudian Allah mengutus seorang laki-laki dan keturunan Ahlulbait-ku. Maka dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi oleh kezaliman, penghuni langit dan bumi merasa senang kepadanya. Langit tidak menyerukan sesuatu pun dari titik-titik hujannya, kecuali ia menurunkannya dengan deras, dan bumi tiada (pula) menyerukan sesuatu pun dari tumbuh-tumbuhannya, sehingga orang yang telah mati (bisa hidup kembali). Al-Mahdi saat itu hidup tujuh atau delapan tahun (lamanya).” (HR. al-Hakim)

Dari Ibn Mas’ud r.a., ia berkata: Nabi bersabda”:”Seandainya (umur) dunia tinggal satu malam saja, pasti Allah memanjangkan malam itu, sehingga seorang dari Ahlulbaitku berkuasa, namanya serupa dengan namaku, dan nama bapaknya serupa dengan nama ayahku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi oleh kezaliman dan kecurangan, dan ia membagi-bagikan harta secara rata. Dan Allah menjadikan hati ummat ini merasa kaya, maka ia (al-Mahdi) menetap (di bumi) selama tujuh atau sembilan (tahun) dan sesudah itu, tidak ada lagi kebaikan dalam hidup.” (HR. Abu Nu’aim)

Konon dalam peperangan Qadisiah, ketika dinasti Sasanian mengalami kekalahan –setelah komandannya yang terkenal, Rustam Farrukhzad tewas dalam peperangan tersebut– disebutkan bahwa sebelum akhirnya terpaksa melarikan diri, raja terakhir dinasti Sasanian, yaitu Yazdgerd memandangi istananya yang megah seraya berkata: ”Wahai balkon istanaku, salam atasmu! Aku sekarang akan pergi dari sisimu hingga aku kembali lagi kepadamu bersama salah seorang putraku yang sekarang belum tiba kemunculannya.”

Berkaitan dengan hal di atas, sebuah hadits yang diriwayatkan Sulaiman ad-Dailami dalam Bihar al-Anwar mengabarkan kepada kita:

”Suatu hari aku bertamu kepada Imam Ja’far ash-Shadiq as. Aku bertanya kepada beliau tentang maksud ucapan Yazdgerd tentang ”salah seorang putraku” tersebut. Beliau berkata: ‘Ia adalah Mahdi yang telah dijanjikan (kemunculannya) dan al-Qa`im dari keluarga Muhammad yang akan muncul di akhir zaman dengan perintah Allah. Ia adalah putraku yang keenam dan putra dari putri Yazdgerd. Dengan demikian, Yazdgerd adalah ayahnya juga.”

Seperti kita ketahui, bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq as adalah keturunan dari Imam Husain as. Imam Husain as beristrikan seorang puteri Persia bernama Syahzanan (Syahrbanu), yang tak lain adalah putri dari Yazdgerd. Maka dapatlah dipahami ucapan Imam ash-Shadiq as di atas.[]

Advertisements

2 thoughts on “Zoroastrianisme, Agama Samawi?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s