Farag Fouda: Membaca Ulang Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Islam

Book Review
Oleh: Irfan Permana

Judul Buku: Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim
Judul Asli: Al-Haqiqah al-Ghaybah
Penulis: Farag Fouda
Penerjemah: Novriantoni
Penerbit: Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat
Cetakan: II, Agustus 2008
Tebal: 198 halaman

Gara-gara tulisan yang mengguncang supremasi mapan sebuah pemikiran politik Islam, nyawa seorang pemikir yang cukup berpengaruh, aktivis hak asasi manusia, penulis dan kolumnis asal Mesir bernama Farag Fouda (1945-1992) melayang.

Kejadian ini berlangsung pada tanggal 8 Juni 1992, beberapa bulan setelah terjadi polemik tajam antara Fouda dan sekelompok ulama yang merasa terusik dengan gagasan liarnya itu. Memang ia seringkali menulis baik berupa buku ataupun artikel di surat kabar yang menyerang secara kritis dengan gaya satir dan ironi, khususnya terhadap kelompok ekstrimis di Mesir. Fouda sendiri merasa bahwa ia sedang membela Islam dari distorsi pemikiran kaum fundamentalis. “Islam adalah agama, kaum Muslim adalah manusia. Agama tidak dapat disalahkan, manusianyalah yang berbuat salah,” kilahnya suatu ketika.

Sekelompok ulama Al-Azhar menganggap tulisan Fouda berbahaya dan meresahkan sehingga merasa perlu mengeluarkan fatwa murtad bagi pengguncang kemapanan itu. Tak ayal, darah Fouda halal untuk ditumpahkan. Beberapa hari berselang, dua orang penyerang bertopeng dari kelompok radikal Jama’ah Islamiyah menembak Fouda hingga tewas di Madinat al-Nasr, Kairo. Seorang anaknya dan beberapa yang lain terluka parah. “Ya, kami membunuhnya setelah keluar fatwa,” aku mereka. Bagi mereka, membunuh seseorang yang menggadang sekularisme dan menolak implementasi syariah hukumnya halal. Atas peristiwa itu, salah seorang ulama Al-Azhar bernama Muhammad Al-Ghazali, yang jauh-jauh hari sebelumnya pernah berdebat sengit dengan Fouda, hanya berkomentar: “Pembunuhan Farag Fouda adalah penerapan hukuman terhadap seorang apostat ketika pemimpin Islam gagal menerapkannya.”

Meski pada akhirnya beberapa tahun berselang para pelaku pembunuhan itu ditangkap dan dieksekusi, namun peristiwa ini menunjukkan betapa mahal harga sebuah kebebasan berbicara di Mesir kala itu.

Beruntung kita hidup di negeri yang masih menyisakan ruang-ruang kebebasan berbicara. Dan cukup mengagumkan, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama lah yang justru pertama kali menerbitkan karya Farag Fouda yang berjudul asli Al-Haqiqah al-Ghaybah ini di tahun 2007. Karena banyaknya permintaan publik, setahun berikutnya Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan edisi revisi yang memperbaiki beberapa kesalahan cetak di edisi pertama, serta menambahkan dua buah epilog, yaitu nukilan tulisan almarhum Nurcholish Madjid serta tulisan Goenawan Mohamad yang juga dimuat di Catatan Pinggir Majalah Tempo.

Apa yang sesungguhnya ditulis sang raja satir Fouda bukanlah sesuatu yang baru. Yang disodorkan berlandaskan fakta sejarah. Fouda hanya mengutip sumber-sumber klasik sejarah Islam seperti dari Ibn al-Atsir, Ibn Katsir, Ibn Sa’ad, Al-Mas’udi, Al-Suyuthi, Al-Thabari, Al-Ya’qubi, dan sebagainya. Dan sumber-sumber tersebut bukan saja dekat dari jangkauan ulama, namun juga bisa kita baca sumber aslinya.

Gaya satir Fouda memang terkadang memberi kesan berlebihan. Juga ketika memaparkan sebuah ironi, seolah mencemooh dan mentertawakan habis-habisan. Tidak saja terhadap kaum ekstrimis (khususnya di Mesir) tetapi juga terhadap sebagian kalangan ulama Al-Azhar[1]. Namun ini bisa kita pahami sebagai tumpahan kekecewaan melihat kemandegan dan stagnasi berpikir di kalangan umat Islam, akibat terlena oleh sesuatu yang telah dianggap mapan sehingga tidak tergerak untuk melakukan penelaahan lebih lanjut.

Fouda tak suka basa-basi. Ia hanya mengatakan bahwa hitam adalah hitam, putih adalah putih, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Ia mengajak kita untuk mengakui sebuah realitas, walau terasa pahit.

Namun sayang, fakta kelam sejarah itu tidak banyak diketahui kalangan awam, sehingga ketika diungkap, banyak orang terguncang dibuatnya karena berbeda dengan apa yang lazim dipahami sebagai sesuatu yang ideal tanpa cela. Sedangkan bagi kebanyakan agamawan, apa yang disodorkan Fouda adalah sesuatu yang ingin dihindari karena mengganggu keselarasan ideologis.

Fouda membuka buku ini dengan mukadimah yang berisi pernyataan bahwa apa yang disampaikannya sesungguhnya merupakan perbincangan tentang sejarah yang telah ia baca, teliti, dan analisa secara tekun, tanpa berusaha melakukan manipulasi demi menyenangkan pembaca semata, sebagaimana banyak ahli sejarah terjebak ke arah itu. Ia hendak mengkritik mereka yang mengajak kembali ke sistem khilafah.

Kemudian dilanjutkan dengan gambaran permasalahan pada Bab I tentang hal-hal yang ingin ia sampaikan secara terbuka. Lalu pada bab selanjutnya secara berani ia masuk mengajak pembaca melakukan pembacaan ulang terhadap sejarah Al-Khulafā’ al-Rāsyidūn (632-661). Bagi Fouda, kecuali Rasulullah SAW, tidak ada pribadi yang bebas dari kesalahan, karena itu bebas untuk dikritisi.

Tanpa basa-basi Fouda memaparkan kekayaan fantastis sejumlah sahabat sebagai indikasi adanya kecenderungan terhadap godaan dunia. Secara terperinci ia mengutip kepemilikan harta sejumlah sahabat dari kitab al-Tabaqāt al-Kubrā karya Ibn Sa’ad. Banyak hal lainnya lagi yang ia singgung. Barangkali itulah yang membuat banyak orang terbakar emosinya dan mengecam keras.

Kondisi umat Islam semakin memburuk tatkala Ali maju sebagai khalifah. Berbondong-bondong orang mengerumuni Muawiyah dan semakin ramai orang berpaling dari Ali. Lebih tertariknya orang-orang terhadap hidangan lezat jamuan Muawiyah dibanding lisan terang Ali, bagi Fouda merupakan pengabaian secara terang-terangan terhadap kebenaran (hal.180).

Untuk ‘hal tabu’ ini, Fouda berapologi:

“Apa yang kita tuliskan ini bukanlah sebentuk celaan terhadap individu-individu. Al-Khulafā’ al-Rāsyidūnnaudzubillah!—martabat mereka sudah amat tinggi sebagai para sahabat Rasulullah dan sebagai agamawan-agamawan agung. Namun kita memang sedang menilik mereka dari sudut pandang berbeda yaitu sudut politik. Karena itu standar penilaian kita didasarkan pada aspek kekuasaan. Dan dari sudut pandang dan takaran ini, mereka dapat ditempatkan sebagai manusia sebagaimana kita, dan sangat mungkin untuk dikritik. Dari sudut pandang ini pula mereka dapat melakukan kekeliruan-kekeliruan.” (Hal. 179).

Dalam bentuk lain, sesungguhnya apa yang ingin disampaikan oleh Fouda secara singkat adalah seperti yang ditulis oleh Prof. Ahmad Syafii Maarif:
“Dari sisi moral, keadilan, dan egalitarianisme, memang era Al-Khulafā’ al-Rāsyidūn masih cukup ideal untuk dicontoh, sehingga Ibn Taimiyah menyebutnya sebagai khilafat al-nubuwwah. Tetapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa tiga khalifah pasca Abu Bakar (632-634) wafat dalam berkuah darah. Umar ibn al-Khattab (634-644) dibunuh oleh seorang non-Muslim, sementara Utsman bin Affan (644-656) dan Ali bin Abi Thalib (656-661) adalah korban political game sesama Muslim yang juga berdarah-darah. Sebagaimana yang akan ditelusuri selanjutnya, sistem khilafah sebagai produk pasca nabi, posisinya secara teori tidak lebih dari masalah ijtihad, sekalipun sementara para yuris membelanya sebagai yang bersifat syar’i.”[2]

Selanjutnya secara blak-blakan Fouda membongkar praktik kezaliman sebagian besar pemimpin Bani Umayyah dan Abbasiyah beserta perilaku buruk mereka semisal gemar minuman keras, menumpuk harta, main perempuan, dan perilaku seksual menyimpang. Tidak berlebihan, sebab kita mengenal sederet nama dari khalifah Umayyah dan Abbasiyah yang berperilaku minus. Yazid bin Muawiyah, dicatat sejarah sebagai seorang yang gemar main perempuan, mabuk dan pesta pora, serta sangat sadis. Dialah yang memerintahkan pasukannya untuk membantai Husain bin Ali beserta keluarganya di padang Karbala. Dialah pula yang memaklumatkan anarkisme di Madinah selama tiga hari karena penduduknya mencabut baiat, yang berakibat 4500 jiwa melayang, seribu perawan diperkosa pasukannya. Khalifah lainnya, al-Walid bin Yazid, juga sangat dikenal dengan kegemaran mabuknya, perilaku homoseksualnya serta hobinya membidik Al-Qur’an dengan panah (hal. 107). Kita juga bisa membaca kisah Al-Saffah “Si Tukang Jagal”, pendiri Dinasti Abbasiyah yang pernah mengundang sembilan puluh orang anggota keluarga Umayyah untuk makan malam, lalu menyiksa mereka sebelum membunuhnya. Kepala para tamu dipentung, diletakkan di bawah permadani, lalu para pembantainya bersantap di atas permadani sambil mendengar jerit lolong yang sedang meregang nyawa (hal.123).

Sebagian besar pergantian kekuasaan di era Umayyah-Abbasiyah ditempuh melalui kudeta berdarah yang berujung pada terbunuhnya khalifah. Banyak orang terjebak dalam kekeliruan memandang sejarah tatkala hanya memfokuskan pada dua tahun kepemimpinan adil Umar bin Abdul Aziz di antara rentang hampir seribu tahun kepemimpinan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Kecuali ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, hampir semua khalifah di masa Umayyah-Abbasiyah berkubang kemewahan, kekejaman dan gemerlap dunia. Maka patut dipertanyakan ketika orang-orang terhanyut terbang mengenang romantisme palsu ke masa-masa itu.

Terakhir, di Bab Penutup Fouda kembali menegaskan tujuannya menulis buku ini, yakni menyampaikan kebenaran pahit melalui sisi kelam sejarah kepemimpinan di tubuh Islam. “Terguncang demi mencapai kebenaran lebih mulia daripada berbangga dengan kepalsuan”, ujarnya. Fouda menegaskan kembali kritikannya terhadap mereka yang ingin kembali kepada sistem khilafah dan negara agama.

Kritik Fouda Terhadap Sistem Khilafah dan Penerapan Syariat

Fouda mengajukan kritik terhadap kalangan yang senantiasa menggaungkan hasrat untuk mendirikan negara dengan sistem khilafah. Kembali kepada periode khilafah adalah suatu hal yang utopis. Masa-masa itu tidaklah segemilang yang dipersepsikan, bahkan banyak jejak memalukan sebagaimana telah direkam oleh Fouda di sepanjang tulisannya.

Gagasan tentang sistem khilafah yang menurut pendukungnya menjadi solusi bagi tegaknya pemerintahan yang bebas dari korupsi, kriminalitas, kemiskinan, dekadensi moral tak lebih hanyalah slogan hampa yang disuarakan demi kepentingan politik belaka.

Sejarah khilafah tak lebih dari sejarah perebutan kekuasaan dan kekayaan yang bersifat duniawi, lepas dari urusan agama. Di mata Fouda, khilafah yang dianggap sebagai konsep negara Islam itu penuh cacat. Ia tidak memiliki mekanisme pemilihan pemimpin yang tetap. Rakyat tidak pernah mendapatkan kedaulatan karena khilafah—yang telah dipraktikkan—hanya berlindung di balik kedaulatan Tuhan. Khilafah juga tidak memiliki mekanisme pertanggungjawaban dan kontrol atas penguasa. Tak heran kalau seorang khalifah kerap melakukan tindakan yang jauh melampaui batas kewenangannya. Akibatnya, Islam menjadi agama yang sangat eksklusif, tak mampu mengejar kemajuan.

Oleh karenanya, ambisi sebagian kalangan untuk mendirikan khilafah Islam adalah seperti hidup di alam mimpi dan lari dari kenyataan. Penyatuan wilayah di bawah satu naungan khilafah adalah mitos belaka, tidak pernah terbukti dalam catatan sejarah. Khilafah, dalam sejarahnya, tak lebih dari sistem kekuasaan totaliter berselubung agama di mana yang sering nampak malah hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai Islam.

Melalui khilafah, para pendukungnya berasumsi bahwa penerapan syariah dapat ditegakkan. Padahal, menurut Fouda, penerapan syariat bukan esensi dari Islam, apalagi di sebuah negara yang plural seperti Mesir. Yang lebih penting adalah bagaimana menetapkan ketentuan-ketentuan ketatanegaraan yang adil dan sesuai dengan semangat Islam. Di sini Fouda seperti mengamini pendahulunya yang juga seorang pemikir Islam asal Mesir bernama ‘Ali ‘Abd ar-Raziq, yang menyatakan secara tegas bahwa tidak ada negara Islam. Islam menurutnya adalah agama moral sebagaimana disabdakan Nabi SAW: “aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak mulia”.[3]

Lebih lanjut, menurut Fouda, agama dan negara tidak boleh dicampuradukkan. Agama dan politik mesti dipisahkan demi menjaga keutuhan negara dan menghindari perpecahan. Dengan pemisahan itu, agama akan terhindar dari manipulasi politik, dan pemerintahan terlaksana dengan didasarkan kepada kepentingan sosial semata. Karena itulah, sekularisme bagi Fouda adalah keniscayaan. Logika halal-haram dalam negara agama akan berlangsung tidak sehat karena selalu dikunci dengan vonis-vonis yang tidak bertanggung jawab. Fouda lebih memilih logika benar-salah dalam perdebatan ide-ide ketimbang perdebatan kekafiran-keimanan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pertautan agama dan politik hanya menghasilkan sesuatu yang kontra produktif.

Karena itu, sekali lagi, kembali kepada sistem khilafah berikut penerapan syariat adalah sesuatu yang musykil. Islam yang benar adalah yang progresif, mengejar kereta peradaban, dan memperbanyak pengetahuan, bukan yang fokus pada romantisme masa lalu yang dipersepsikan ideal itu. Demikian menurut Fouda.

 Refleksi dan Catatan Kritis

Bagi kalangan umum, yang terdengar tentang kekhalifahan di masa lalu adalah sesuatu yang dipersepsikan ideal dan romantik. Kalangan agamawan banyak yang menutup fakta kelam ini demi kemapanan ideologis. Sementara para akademisi hanya membincangkannya di kalangan terbatas. Mereka tahu persis membuka sejarah kelam ini kepada kalangan awam—apalagi secara blak-blakan seperti yang dilakukan Farag Fouda—mengandung resiko yang tidak kecil, bahkan nyawa taruhannya. Paling tidak, tuduhan penistaan terhadap agama harus siap diterima. Dan memang inilah yang pada akhirnya dituduhkan sebagian orang kepada Fouda. Mereka mengatakan bahwa Fouda melakukan penghinaan terhadap Islam dan individu-individu yang diagungkan. Padahal di bagian mukadimah bukunya sang penulis menegaskan bahwa dengan wafatnya Rasulullah, periode Islam sesungguhnya telah sempurna. Namun pada periode selanjutnya sama sekali tidak suci sehingga terbuka kemungkinan untuk didiskusikan, dianalisa, dan dikritisi lebih lanjut. Fouda sesungguhnya tidak sedang menghina Islam. Secara tidak langsung ia malah mengajak kita menengok kembali doktrin-doktrin keagamaan kita.

Dalam bukunya, Fouda mengakui bahwa apa yang dipaparkannya itu bukan tidak mungkin terbebas dari kekeliruan. Dengan kata lain, masih terbuka ruang untuk diskusi lebih lanjut. Dan memang di beberapa tempat ada hal-hal yang perlu dikritisi, termasuk validitas riwayat yang ia nukil. Sebagai contoh, misalnya ia tidak menyebutkan sumber yang jelas ketika mengangkat kasus tuduhan Ali terhadap Aisyah mengenai desas-desus perselingkuhannya. Dilanjut dengan kekerasan fisik yang dilakukan Ali terhadap seorang budak yang tidak mau menyatakan pengakuan atas tuduhan perselingkuhan itu. Patut dipertanyakan apakah Fouda mengutip suatu riwayat minor dari salah satu sumber rujukan tanpa meneliti dan membandingkannya dengan riwayat lain yang sama tetapi membawa informasi bertentangan? Jika ya, maka metodologi yang ditempuh Fouda masih lemah.

Juga ketika Fouda mengutarakan bahwa kepemimpinan Ali tidak menghasilkan apa-apa kecuali perang saudara demi memantapkan kekuasaan semata. Di sini kita berhak mengajukan pertanyaan mengapa Fouda luput dari analisa bahwa kepemimpinan singkat Ali itu terbebani dengan tumpukan masalah dan warisan tatanan yang telah terbentuk sebagai limpahan dari rezim sebelumnya. Ditambah persoalan pelik lain ketika Aisyah bersama Thalhah dan Zubair—didukung oleh mereka yang merasa privilege yang diberikan khalifah sebelumnya dicabut—bersama-sama  mengangkat senjata melawan Ali sehingga pecah perang Jamal yang memakan 20.000 nyawa kaum Muslim. Kemudian disusul rongrongan Muawiyah dalam perang Shiffin yang menguras energi, mengaduk emosi, dan memakan nyawa lebih banyak lagi. Belum lagi harus menghadapi kelompok yang memisahkan diri dari barisan Ali, yang dikenal sebagai kelompok Khawarij itu.

Berkecamuknya perang saudara yang membingungkan sebagian kaum Muslim karena kaum Muslim mati di tangan Muslim sendiri, ditambah permasalahan lain yang tak kalah peliknya, belumlah memberikan kesempatan kepada Sang Khalifah untuk melakukan berbagai penataan di masa kepemimpinannya yang hanya kurang dari lima tahun itu. Rasul Ja’fariyan, dalam tulisannya menggambarkan bahwa bagi Imam Ali, situasi masyarakat di awal masa khilafahnya sama seperti pada masa sebelum Islam.[4] Namun sekali lagi, hal ini bisa kita pahami bahwasanya apa yang hendak diutarakan Fouda semata untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa kondisi di masa itu tidaklah seideal yang diperkirakan banyak orang.

Di era Abbasiyah, sebetulnya kaum Muslim sempat mencapai kegemilangan melalui perkembangan ilmu pengetahuan, kesenian, filsafat, serta kemajuan teknologi, yang dalam perspektif ini dunia Islamlah yang paling maju saat itu. Namun Fouda lebih menengok dari sisi buramnya saja. Hal ini dapat dimaklumi jika melihat tujuan Fouda menulis buku ini.

Adapun pandangan Fouda tentang pentingnya pemisahan negara dan agama, dan menganggap sekularisme sebagai satu-satunya solusi hidup bernegara, mesti dipahami dari sudut pandang lain. Mesir adalah negara yang majemuk. Fouda hidup di masa ketika Mesir mengalami polarisasi ideologi yang keras antara kaum sekularis dan Islamis, di mana saat itu kelompok radikal seperti Jama’ah Islamiyah sedang gencar melempar wacana pembentukan negara Islam berikut penerapan syariatnya. Dan Fouda termasuk salah satu yang keras melemparkan kritik. Baginya, pendukung sistem khilafah seolah sengaja menghindari jejak memalukan di masa lalu dan lari dari kenyataan.

Bagi Fouda, mengubur jejak-jejak memalukan itu merupakan sebuah bentuk ketidakjujuran ilmiah, yang justru menyebabkan kegagalan memetik hikmah dari sejarah. Mengutip apa yang pernah disampaikan Nurcholish Madjid, bahwa sejarah adalah sejarah, ia tidak sakral. Human history is nothing sacred about it. Perbuatan kotor yang dilakukan pelaku sejarah Islam sama sekali tidak mengganggu kesucian Islam itu sendiri. Islam telah melewati rentang ruang dan waktu yang cukup panjang. Di dalamnya ada dinamika dan dialektika yang membentuk thesis dan antithesis. Dan kita harus belajar dari Fouda, bahwa telaah ulang terhadap sejarah bukanlah merupakan hal yang tabu. Bentuk supremasi kemapanan apapun layak dicurigai, kemutlakan apapun pantas untuk diselidiki. Studi sejarah akan bermanfaat bila ia berhasil mempertanyakan ulang status dan validitas sesuatu yang sudah terlanjur dianggap self-evident. Untuk ini, “kacamata” Fouda bisa kita pinjam untuk memahami sejarah Islam secara lebih otentik dan obyektif.

Karena itu pula, maka tidaklah tabu ketika kita mesti mendialogkan masa lalu secara kritis, bahkan ketika harus memasuki area yang selama ini dianggap sakral, yakni perbincangan tentang ‘adālat al-Shahābah. Para sahabat mempunyai sisi manusiawi, mereka bukanlah pribadi ma’shum seperti Rasulullah SAW yang terbebas dari kesalahan, ada hal-hal yang kita bisa melakukan analisis kritis terhadapnya meskipun resikonya kita mesti meninjau ulang definisi sahabat yang terlanjur baku selama ini, selain tentunya akan mengundang kontroversi dan protes keras karena dianggap merendahkan posisi mulia itu. Namun ini sungguh penting untuk memahami generasi sahabat secara lebih jernih dan terbuka. Juga penting sebab nantinya menyangkut pemilahan terhadap sumber rujukan yang layak dijadikan pegangan kokoh.

***

Demikianlah, Farag Fouda mengajak kita memakai kacamata lain dalam menelisik sejarah. Agar lebih jernih dan obyektif menerima realitas, kita harus siap melihat apa yang tidak ingin kita lihat, mendengar apa yang tidak ingin kita dengar. Semua topik terbuka untuk diteliti kembali, tidak ada yang sakral. Sejarah bukan milik penguasa yang menang dalam pertarungan politik. Might is not always right. Dan membaca buku Fouda, adalah pembelajaran baik dalam menerima realitas pahit dari penggalan episode kelam di masa lalu, untuk lantas mengambil hikmah dan melanjutkan putaran roda sejarah secara lebih jernih. Tentunya dengan tidak melepaskan daya nalar kritis kita.[]

Catatan:

[1] Gaya sinis Fouda dapat ditemukan dalam berbagai kesempatan. Misalnya dalam sebuah wawancara di sebuah majalah ia mengatakan: “the world around us is busy with the conquest of space, genetic engineering and the wonders of the computer, while Muslim scholars concern themselves with sex in paradise”. Atau di kesempatan lain ketika ia mengkritik sebagian kalangan ulama: “Syeikh Al-Azhar harus banyak bersyukur kepada Allah karena tidak ada yang menentangnya dan tidak ada yang menanyakan seberapa tepat pemahamannya mengenai agama…. Wahai Syeikh al-Azhar, banyak-banyaklah bersyukur kepada Allah atas keterbelakangan umat Islam, karena hanya inilah yang membuatmu dapat melanjutkan pekerjaan!”

[2] Ahmad Syafii Maarif. Sistem Khilafah dalam Tradisi Islam. Titik Temu, Jurnal Dialog Peradaban. Vol.I, 2009, hal.73.

[3] ‘Ali ‘Abd ar-Raaziq. Islam dan Dasar-dasar Pemerintahan: Kajian Khilafah dan Pemerintahan dalam Islam. Jendela, 2002, Hal.xii Bab Pengantar.

[4] Rasul Ja’fariyan. Sejarah Khilafah 11-35 H. Al-Huda, 2006, hal. 361. Penulis buku mengutip dari Nahj as-Sa’adah, vol.I, hal.189.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s