Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar

Saya ingin mengutip kembali cerita tentang Si Beo dalam Matsnawi.

Dalam Matsnawi, Jalaluddin Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang pergi sebentar untuk shalat. Merasa bebas bermain-main, ia terbang leluasa kesana-kemari hingga tanpa sengaja menumpahkan sebotol minyak sampai pecah. Sebagai hukuman, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Sang burung bersedih. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis gundul melintas di depan kedai. Si beo girang bukan kepalang melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengan dirinya: sama-sama dihukum oleh majikannya.

“Hei kawan….kau menumpahkan minyak juga ya sepertiku?” Teriaknya kepada sang darwis.

***

Seringkali kita seperti si beo, begitu gampang menilai seseorang dari penampakan luar. Dan yang paling berbahaya adalah ketika panampakan luar dibungkus dengan yang namanya kemasan agama. Lalu dipropagandakan sedemikian rupa bahwa sang calon relijius inilah yang paling pantas dipilih sebagai pemimpin, yang lain tidak. Kenapa pantas? Dia Islami, hafizh Qur’an, didukung ulama. Calon lainnya tidak, bahkan jauh dari islami. Ini saja sudah dianggap cukup sebagai modal memilih.

Hafizh Qur’an ya bagus. Tapi apakah sudah teruji pengejawantahan penghayatan kandungan Qur’an yang dihafal itu? Didukung ulama ya bagus, tapi apakah seluruh ulama mendukung? Jelas tidak, hanya sekelompok “ulama” saja. Itupun lebih pantas disebut juru kampanye. Ulama lain yang tidak sejalan pilihan politiknya, lantas dianggap ulama ngawur. Yang gawat lagi, disebarkan pula kampanye hitam bahwa si calon A pro LGBT lah, si B nggak Islami lah, si D musyrik suka mencampuradukkan agama dengan budaya lah, dsb.

Ya, Rumi benar, kita masih banyak yang membeo seperti si beo di atas, yang begitu melihat seorang darwis gundul melintas, langsung dikira sama dengan dirinya. Kita banyak yang seperti itu. Karena embel-embel kemasan Islami, seseorang langsung dicap Islami sampai ke daleman-dalemannya (tanpa perlu menelusuri lebih jauh apakah dalemannya itu sudah dicuci bersih belum 🙂 ). Juga tanpa perlu tahu bagaimana track record pendukungnya yang mengklaim sebagai yang paling Islami tapi sering menampilkan tindakan yang tidak Islami itu.

Sekelompok orang memang lihai dalam mengolah kemasan yang ternyata masih laku dijual ini. Mereka tahu persis bahwa ucapan Ibn Rusyd masih efektif untuk dipraktekkan: “Jika kau ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama.”

Silakan nilai segala sesuatu dari bungkus luarnya saja. Substansi tidak penting. Menelusuri dan menelisik calon lain juga tidak penting. Karena ternyata lebih gampang bergabung dengan Si Beo dan orang-orang yang disebut Ibn Rusyd itu.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s