Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita

Image source: google

Inilah era post-truth, di mana kita kehabisan waktu untuk mengolah dan menyaring informasi yang datang membanjiri ruang virtual kita. Di mana kita lebih suka memastikan kebenaran suatu informasi hanya karena sejalan dengan keinginan, kenyamanan, dan berbagai perasaan yang meliputi kita.

Di sebuah platform media sosial bernama Facebook yang menurut APJII paling banyak digunakan di Indonesia ini, jika Anda intensif berinteraksi dengan seseorang, maka yang bersangkutan akan nongol terus di newsfeed. Sementara dengan pengguna yang sama sekali tak ada interaksi—entah itu setor jempol atau komentar—selanjutnya seperti menghilang dari peredaran. Karena itu tidak heran kalau di antara ribuan teman FB Anda, yang aktif kok sepertinya itu-itu saja. Facebook mengatakan bahwa tujuan utama dari algoritma yang dibangunnya adalah untuk membersihkan News Feed dari posting-posting yang tidak disukai oleh pengguna.

Begitulah algoritma FB bekerja. Sejalan dengan slogan FB yang diumumkan di Januari 2018 lalu: “bring people closer together and build relationships.”

Satu lagi contoh medsos lainnya: Youtube. Misalnya kita buka sebuah video musik, lalu di lain waktu saat membuka Youtube lagi, maka halaman utama kita akan dipenuhi channel-channel sejenis. Youtube seolah mengerti jalan pikiran dan kesenangan kita. Youtube menciptakan habitat yang kita merasa nyaman di dalamnya.

Itulah sebabnya, tidak mudah mengajak selow-selow seorang pengrajin status yang hobinya marah-marah soal agama dan politik melulu. Sebab ia hanya mau memberikan respons terhadap informasi yang digemarinya saja. Ia hanya berinteraksi dengan penyampai informasi yang sejalan saja. Ia telah membangun engagement dan terkurung dalam komunitas virtual yang dibangunnya sendiri. Dan algoritma media sosial bekerja mengelompokkan orang-orang berdasarkan lingkungannya.

Lalu apa hubungannya dengan post-truth di awal tulisan? Ibaratnya setiap pagi kita dicekoki kopi sachet dan perasaan kita mengatakan bahwa kopi sachet lebih baik dibanding kopi beneran, maka selanjutnya kita menganggap bahwa kopi yang beneran kopi adalah kopi sachet, yang lainnya sesat. Seperti itulah kira-kira.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s