Toleransi Bubur Ayam

Sabtu pagi ini aku makan bubur ayam pinggir jalan bareng istriku. Aku nggak diaduk, istriku diaduk. Aku merasa jijay lihat bubur diaduk. Mirip-mirip apaa gitu (gak usah disebut). Istriku bilang aku lebay. Tetapi kami makan bubur bareng akur-akur saja. Meski masing-masing yakin bahwa buburnya lah yang lebih enak. Itulah namanya toleransi bubur ayam.

Aku pikir demikian juga dalam kehidupan beragama. Terkadang kita lihat orang ada jijay-jijaynya, kadang ada lebaynya. Namun selama tidak saling menyakiti, harus saling menghargai. Sambil tetap memegang keyakinan masing-masing.[]

Advertisements

Islam Nusantara dan Sedikit Pertanyaan

“Islam Nusantara bukan Mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais. Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara.”
(Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA)

“Islam itu aqidahnya sama sedunia. Tapi aplikasi & ekspresi keislaman itu ada muatan lokalnya. Contoh: KFC itu jualan ayam goreng. Tapi di Indonesia mereka juga jualan nasi. Di Ausie cuma pakai kentang. Namanya tetap KFC. Kalau udah paham ini, gak sulit mau paham tentang Islam Nusantara”
(Prof. Nadirsyah Hosen)

***

Tidak sulit untuk memahami apa yang disampaikan oleh Kyai Said Aqil di atas, ditambah analogi dari Gus Nadir. Adapun gelombang kritikan dan nyinyiran dari para aktivis media sosial, kebanyakan tidak tepat sasaran. Kebanyakan mempersoalkan bahwa Islam Nusantara adalah aliran baru yang mengada-ada dan cari gara-gara.

Continue reading “Islam Nusantara dan Sedikit Pertanyaan”

Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita

Image source: google

Inilah era post-truth, di mana kita kehabisan waktu untuk mengolah dan menyaring informasi yang datang membanjiri ruang virtual kita. Di mana kita lebih suka memastikan kebenaran suatu informasi hanya karena sejalan dengan keinginan, kenyamanan, dan berbagai perasaan yang meliputi kita.

Continue reading “Post-truth dan Algoritma Media Sosial Kita”

Pagi

Setelah menghabiskan secangkir kopi, kendaraan kupanaskan. Melaju melewati tukang sapu jalanan dan Pak Satpam yang selalu lempar senyuman. Kemudian memasuki jalan besar: manusia yang lalu-lalang, mobil dan sepeda motor yang berseliweran, hangat matahari pagi yang menyilaukan, debu yang bikin alergi kambuh, atau terpaan angin yang menyegarkan. Terkadang gerimis dan hembusan angin yang mencucuk tulang. Sampai di tujuan, kendaraan kuparkirkan. Menghidupkan laptop dan memulai aktivitas.

Yang tersembunyi adalah: neraka yang kucumbui, surga yang kuhayati, dan Tuhan yang kucandai.

Pagi tak berubah, hanya tubuh yang perlahan merapuh dan jiwa yang terus mengembara.

Pasar Minggu, 5 Jul 2018

Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar

Saya ingin mengutip kembali cerita tentang Si Beo dalam Matsnawi.

Dalam Matsnawi, Jalaluddin Rumi berkisah tentang burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya gara-gara gagal menjalankan tugas menjaga kedai sang bos yang pergi sebentar untuk shalat. Merasa bebas bermain-main, ia terbang leluasa kesana-kemari hingga tanpa sengaja menumpahkan sebotol minyak sampai pecah. Sebagai hukuman, kepala burung itu dicukur habis hingga gundul. Sang burung bersedih. Setelah beberapa hari murung, tiba-tiba ia melihat seorang darwis gundul melintas di depan kedai. Si beo girang bukan kepalang melihat ada orang yang dipikirnya senasib dengan dirinya: sama-sama dihukum oleh majikannya.

Continue reading “Sekali Lagi Tentang Bungkus Luar”

Cannery Row: yang Ringan Tapi Asyik

Cannery Row digambarkan sebagai sebuah wilayah bising nan kumuh di Monterey, California, di mana pabrik pengalengan sarden dan gudang-gudang penyimpanan berdiri tak jauh dari pantai. Di tempat ini hidup seorang marine biologist kharismatik bernama Doc. Setiap orang yang mengenalnya akan berpikiran sama: “I really must do something nice for Doc”.

Continue reading “Cannery Row: yang Ringan Tapi Asyik”

Khotbah di Atas Bukit: Sebuah Perburuan Spiritual?

Segala kesenangan duniawi pernah dirasakan Barman. Kini, setelah sekian lama menduda, Barman tua hendak menghabiskan hidup dalam kesegaran, ketenangan dan kesunyian di sebuah bukit, di mana ia mulai mengisi hari-harinya yang santai ditemani Popi yang muda dan cantik, mantan pelacur yang kini menjadi istrinya.

Tetapi Barman belum menemukan juga apa yang dicarinya. Bahkan ia tak tahu persis apa sebetulnya yang dicari. Keresahan yang menghampiri belum juga terobati. Hingga suatu ketika ia bertemu Humam, sosok bijak misterius yang mengajarkannya tentang “detachment” dalam hidup, yang kemudian menghanyutkannya dalam perburuan spiritual.

Continue reading “Khotbah di Atas Bukit: Sebuah Perburuan Spiritual?”