Archive

Archive for the ‘Mysticism’ Category

Ibn ‘Arabi: The Seal of Muhammadan Sainthood

February 28, 2012 4 comments

Irfan Permana P.

 If you are a walī, you are the heir of a prophet. And if you have inherited knowledge from Moses or Jesus or from any prophet in between, all you have actually inherited is Muhammadan knowledge. (Ibn ‘Arabi, Futūhat)

It goes without saying that Shaykh al-Akbar Ibn ‘Arabi (560-638 AH/ 1165-1240 AD) to anyone who is not well informed is one of the most controversial figures in Islamic history. His world-view which he claimed coming from his visionary knowledge and personal experience, undoubtely, made him popular that made it such a threat to the extreme muslim community.

Read more…

Categories: Mysticism

The Garden of Truth: Jalan Spiritual Menuju Taman Kebenaran *)

June 18, 2011 1 comment

Book Review
Oleh: Irfan Permana

—————————————————–
Judul Buku:  The Garden of Truth, Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli:  The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s  Mystical Tradition
Penulis: Seyyed Hossein Nasr
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 304 halaman
—————————————————–

Kita lahir, menjalani keriangan masa kanak-kanak, tumbuh kembang menjadi remaja, lalu di usia dewasa tanpa terasa terseret rutinitas di tengah kultur hedonisme beserta aneka problematikanya. Lantas, sebagian dari kita mulai resah dan bertanya: Apa sesungguhnya yang sedang kita cari? Siapakah kita? Dari mana kita berasal? Akan ke mana kita pergi?

Read more…

Categories: Agama, Buku, Mysticism

Sambutlah Senyum Layla

May 13, 2010 6 comments

Ketika Majnun mengisi sebuah wadah dengan air yang mengalir, Layla yang elok mencoba mencuri perhatian. Ia lemparkan batu hingga wadah tersebut pecah. Majnun tersentak dan menoleh. Sungguh, senyuman itu membuat Majnun mabuk kepayang hingga sekarang ia tak mempedulikan lagi airnya yang tumpah. Ia hentikan mengisi air. Sekarang ia pandangi Layla yang senyumnya sangat menawan.

Read more…

Categories: Mysticism, Renungan

Gunung Kosmik

September 23, 2009 Leave a comment

simurghDalam lingkar sufisme, gunung melambangkan perluasan langit yang tak terhingga. Meskipun ia hanyalah sebuah titik dalam Ketakberhinggaan Ilahi, ia adalah titik tertinggi di jagat semesta. Ia dilambangkan sebagai sumber keseluruhan kosmos.

Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin kecil benda-benda yang tampak di bawahnya. Semakin jauh jangkauan pandangannya, semakin banyak objek penglihatan yang diperolehnya. Pada saat yang sama, sang pendaki mampu melihat puncak-puncak lainnya. Di tengah keangkuhan Sang Gunung, segera ia akan merasakan kekerdilan dirinya.

Read more…

Categories: Mysticism, Renungan Tags:

Sejenak Bersama Bayazid (Dialog Imajiner)

September 23, 2009 Leave a comment

“Salam. Bagaimana kabar Anda malam ini Tuan?”

“Aku tak punya malam. Pagi, sore, dan malam hanya untuk orang yang dibatasi atribut, dan aku tak punya atribut.”

“Baiklah, aku ingin bertemu Tuan Bayazid al-Busthami, Andakah orangnya?”

Read more…

Categories: Mysticism, Renungan

Samâ’, Ekstase dalam Cinta

May 25, 2007 8 comments

Oleh:  Irfan Permana

Setiap atom menari di darat atau di udara
Sadari baik-baik, seperti kita, ia berputar-putar tanpa henti di sana
Setiap atom, entah itu bahagia atau sedih,
Putaran matahari adalah ekstase yang tak terperikan
(Rumi)

Shalawat disenandungkan, gendang mulai bertabuh, seruling ney mulai ditiup.

Di ruangan itu tampak sekelompok darwis mengenakan atribut yang seragam. Topi yang memanjang ke atas, jubah hitam besar, baju putih yang melebar di bagian bawahnya seperti rok, serta tanpa alas kaki. Mereka membungkukkan badan tanda hormat lalu mulai melepas jubah hitamnya. Posisi tangan mereka menempel di dada, bersilang mencengkram bahu. Di tengah-tengah mereka tampak seorang Syaikh, yang berperan sebagai pemimpin. Jubah hitam tetap ia kenakan. Ia maju mengambil tempat. Kini giliran syaikh tersebut membungkukkan badannya pada darwis lainnya, mereka pun balas menghormat.

Read more…

Categories: Agama, Mysticism

Optimisme Rumi

May 18, 2007 9 comments

Oleh: Irfan Permana

Kami bukanlah caravan yang patah hati
atau pintu-pintu dari keputus asaan,
Mari kemari datanglah
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Walau kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang…datanglah sekali lagi
(Jalaluddin Rumi)

Suka duka kehidupan datang silih berganti. Suka cita dirasakan setiap orang ketika kesenangan hidup menghampirinya, seperti halnya duka lara dirasakan ketika kesulitan mendera. Sebuah laku yang sangat manusiawi. Menyulap sebentuk duka menjadi suka -dalam keadaan apapun- adalah sesuatu yang dianjurkan oleh para arif. Terlebih, agamapun memerintahkan demikian. Bukankah agama diturunkan supaya kita berbahagia bukan saja di akhirat kelak, tetapi juga di dunia kini?

Read more…

Categories: Agama, Mysticism, Renungan