Archive

Archive for the ‘Opini’ Category

Yang Awam Ikut Ahlinya Saja

August 30, 2011 Leave a comment

Ilmu fiqih seperti matematika, sarat dengan muatan logika berikut aturan-aturannya yang ketat. Hanya orang-orang yang mempunyai kecakapan dan telah mengkhususkan diri untuk mendalaminya yang layak dimintai pendapat. Orang awam seperti kita hendaknya mengikuti ahlinya saja.

Tapi masalahnya, kita yang awam ini suka dibikin pusing (atau muak?). Tiba-tiba semua orang jadi ahli. Masing-masing mulai bersuara. Celakanya lagi, pendapat dilontarkan sembari meremehkan pendapat lainnya.

Read more…

Categories: Opini, Pojok Celoteh

Empati di Sebuah Metromini

February 28, 2010 4 comments

“Silakan Mas, duduk!”

Sebelum menjawab, sejenak saya amati lelaki belia berseragam SMA itu. Wajahnya sebersih pakaiannya. Tawarannya juga setulus senyumannya.

“Oh, tidak Dik, saya belum terlalu tua, masih kuat berdiri, terima kasih ya…” Jawab saya sedikit bercanda.

Ia pun mengangguk, tersenyum, lalu kembali menempati kursinya. Kini ia duduk dengan perasaan kurang nyaman, karena dipikirnya seharusnya ia memberikan kursi tersebut untuk seorang yang usianya lebih tua yang kini sedang berdiri di sampingnya itu.

Read more…

Categories: Daily Life, Opini

Seperti Fouda

December 19, 2009 Leave a comment

Gara-gara sebuah tulisan yang melawan supremasi mapan sebuah pemikiran politik Islam, nyawa seorang pemikir dan komentator sosial asal Mesir bernama Farag Fouda (1945-1992) melayang.

Read more…

Categories: Opini

Teror vs Teror

August 16, 2009 4 comments

Pelaku teror atas nama agama biasanya datang dari masyarakat yang tingkat ekonominya cukup memprihatinkan. Sesaknya dada akibat himpitan kebutuhan hidup turut memuluskan jalan untuk memilih pandangan hidup yang lebih transendental. Ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan duniawi ini, ketika derita semakin mengakrabi keseharian, dan ketika segala gairah materialisme di muka bumi hanya menjadi tontonan belaka tanpa pernah ada kesempatan untuk mencicipinya barang sedetik pun, maka kehidupan akhir yang abadi nan menjanjikan menjadi prioritas utama untuk segera diraih. Pertikaian picik tentang uang dan segala kesementaraan di dunia ini segera bernilai nista di mata mereka.

Read more…

Categories: Opini, Renungan