Zoroastrianisme, Agama Samawi?

Oleh: Irfan Permana P.

Setidaknya ada dua prinsip dasar dalam keyakinan Zoroastrianisme : pertama, ada hukum di dalam alam. Kedua, ada konflik di dalam alam. Penegakan hukum berlangsung terus menerus akibat adanya konflik yang terjadi di alam semesta ini. Dalam konsepnya, harus ada penyatuan antara kejahatan dengan kebaikan abadi Tuhan. Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa proses penyatuan kebaikan dan kejahatan itu tidak dipahami sebagai aktivitas yang mandiri, melainkan dua aspek dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, konflik tersebut adalah perjuangan Tuhan melawan diri-Nya sendiri. Jadi dapat dikatakan secara teologis bersifat monistis dan secara filosofis bersifat dualis.

Continue reading “Zoroastrianisme, Agama Samawi?”

Advertisements

Ibn ‘Arabi: The Seal of Muhammadan Sainthood

Irfan Permana P.

 If you are a walī, you are the heir of a prophet. And if you have inherited knowledge from Moses or Jesus or from any prophet in between, all you have actually inherited is Muhammadan knowledge. (Ibn ‘Arabi, Futūhat)

It goes without saying that Shaykh al-Akbar Ibn ‘Arabi (560-638 AH/ 1165-1240 AD) to anyone who is not well informed is one of the most controversial figures in Islamic history. His world-view which he claimed coming from his visionary knowledge and personal experience, undoubtely, made him popular that made it such a threat to the extreme muslim community.

Continue reading “Ibn ‘Arabi: The Seal of Muhammadan Sainthood”

Sambutlah Senyum Layla

Ketika Majnun mengisi sebuah wadah dengan air yang mengalir, Layla yang elok mencoba mencuri perhatian. Ia lemparkan batu hingga wadah tersebut pecah. Majnun tersentak dan menoleh. Sungguh, senyuman itu membuat Majnun mabuk kepayang hingga sekarang ia tak mempedulikan lagi airnya yang tumpah. Ia hentikan mengisi air. Sekarang ia pandangi Layla yang senyumnya sangat menawan.

Continue reading “Sambutlah Senyum Layla”

Rekam Jejak Wahhabisme

Oleh: Irfan Permana

Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat yang membabi buta, yakni doktrin takfiri, yang menganggap kelompok lainnya sebagai kafir. Atas dasar klaim purifikasi, yaitu pemurnian ajaran untuk kembali kepada Islam yang benar (menurut versi mereka), gerakan ini mengijinkan perlawanan terhadap semua kaum Muslim yang dipandang tidak sejalan dengan ajarannya. Maka perpecahan di tubuh Islam pun menjadi tak terelakkan. Peradaban Islam pun menjadi semakin jauh tertinggal karena terlalu disibukkan dengan persoalan internal yang sudah usang.

Continue reading “Rekam Jejak Wahhabisme”

Dan Pukullah Mereka?

CharmRose_kcl

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya[1], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 34)

Continue reading “Dan Pukullah Mereka?”

Gunung Kosmik

simurghDalam lingkar sufisme, gunung melambangkan perluasan langit yang tak terhingga. Meskipun ia hanyalah sebuah titik dalam Ketakberhinggaan Ilahi, ia adalah titik tertinggi di jagat semesta. Ia dilambangkan sebagai sumber keseluruhan kosmos.

Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin kecil benda-benda yang tampak di bawahnya. Semakin jauh jangkauan pandangannya, semakin banyak objek penglihatan yang diperolehnya. Pada saat yang sama, sang pendaki mampu melihat puncak-puncak lainnya. Di tengah keangkuhan Sang Gunung, segera ia akan merasakan kekerdilan dirinya.

Continue reading “Gunung Kosmik”

Ketika Sakit

Semula paradigma kesehatan berpusat pada asal-usul penyakit. Banyak penelitian menemukan pengaruh stress, rasa cemas, marah, atau takut berdampak buruk pada kesehatan, mulai flu, maag, hingga kanker. Belakangan paradigma mulai bergeser. Penelitian mulai memfokuskan pada seberapa jauh pengaruh kebahagiaan pada kesehatan fisik dan mental seseorang. Salah satu di antara banyak peneliti yang mengembangkan paradigma tersebut adalah Martin Seligman, seorang penggagas psikologi positif dari University of Pennsylvania. Ia menemukan keterkaitan antara sikap hidup optimis (yang melahirkan rasa bahagia) dengan kesehatan fisik dan jiwa seseorang.

Continue reading “Ketika Sakit”