Ki Pesak Lepet Belum Gila

Ki Pesak Lepet belum benar-benar gila. Sedikit dari kami masih setia mengikuti pelajaran yang ia berikan. Bedanya kini, ia selalu memberikan kejutan-kejutan yang belum pernah kami terima sebelumnya. Proses transfer ilmu pun sekarang bisa dilakukan di mana saja. Di tengah hiruk pikuk pasar, di pinggir jalan tol, hingga di tengah deburan ombak. Di lain waktu malah di kesunyian lembah, gunung, bukit, ngarai hingga di liang lahat yang kami gali sendiri-sendiri.

Continue reading “Ki Pesak Lepet Belum Gila”

Advertisements

Perut Kenyang, Otak Tumpul

Sekali-kali boleh dong Gan Oded nongkrong di mall sepulang kerja? Kalau sekadar traktir teman makan bakso malang di food court, sampai merangkak kekenyangan pun insya Allah masih mampu. Tetapi sohibnya yang bernama Sule ini, setelah menghabiskan semangkuk bakso yang isinya cuma lima buah (kecil-kecil pula), menolak untuk menambah. Padahal tawaran Gan Oded bukan basa-basi, sebab lima butir bakso malang mana cukup untuk mengganjal perut yang belum diisi lagi sejak tadi siang.

Continue reading “Perut Kenyang, Otak Tumpul”

Ksatria yang Terlupakan

Suatu hari dalam deretan tanggal Kresnapaksa, bulan Badra, tahun 1279 Caka. Dari lingkar kenangan Sunda-Galuh, menyusur ke arah timur meninggalkan batas Ci Pamali dan Ci Serayu, aku berada diantara iring-iringan yang mengantar seorang putri cantik yang hendak dipinang seorang raja.

Bulatan sang surya belumlah tepat di atas kepala. Namun fragmen kisah silam ini berlangsung begitu cepat, hingga kusadari bahwa rombongan ini -setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan- terjerat dalam jebakan skenario sang mahapatih yang intuisi politiknya tajam namun lemah dalam cita rasa cinta. Selanjutnya harus terjadi pertempuran dengan kekuatan tak berimbang demi mempertahankan harga diri dalam perspektifnya masing-masing. Padahal, jika nasab dari masing-masing raja sedikit saja ditarik ke atas, masih ada hubungan kekerabatan. Keduanya sama-sama keturunan Prabu Darmasiksa dari jalur isteri yang berbeda, terpaut tiga generasi. Dan sejatinya, pernikahan tersebut diniatkan untuk mengencangkan kembali tali silaturahmi yang dirasa sudah melonggar.

Continue reading “Ksatria yang Terlupakan”

Bukan Salah Haji Syaichon

Dengan modal 30 ribu perak, kita bisa makan-minum di warteg sebanyak 3-4 kali. Di sebuah food court di mall, mungkin bisa sekali. Di restoran cepat saji, dengan menu standar masih bisa sekali. Tapi untuk makan steak di sebuah restoran mewah, kalau tidak diusir keluar, paling beruntung dapat tusuk giginya saja.

Dan di Pasuruan sana, uang sejumlah 30 ribu diburu sekian banyak dhuafa, sebab cukup untuk modal makan sekian hari. Bukan untuk satu perut saja, tapi untuk perut-perut sebuah keluarga yang tak pernah mengenal yang namanya food court, fast food, apalagi rib eye steak. Bisa kita bayangkan, menu seperti apa yang biasa mereka santap sehari-hari. Tak perlu memikirkan kandungan gizi, manusia-manusia akrab derita ini bahkan tak mempermasalahkan hari-hari manakala tak ada menu apapun yang tersaji.

Continue reading “Bukan Salah Haji Syaichon”