Ksatria yang Terlupakan

Suatu hari dalam deretan tanggal Kresnapaksa, bulan Badra, tahun 1279 Caka. Dari lingkar kenangan Sunda-Galuh, menyusur ke arah timur meninggalkan batas Ci Pamali dan Ci Serayu, aku berada diantara iring-iringan yang mengantar seorang putri cantik yang hendak dipinang seorang raja.

Bulatan sang surya belumlah tepat di atas kepala. Namun fragmen kisah silam ini berlangsung begitu cepat, hingga kusadari bahwa rombongan ini -setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan- terjerat dalam jebakan skenario sang mahapatih yang intuisi politiknya tajam namun lemah dalam cita rasa cinta. Selanjutnya harus terjadi pertempuran dengan kekuatan tak berimbang demi mempertahankan harga diri dalam perspektifnya masing-masing. Padahal, jika nasab dari masing-masing raja sedikit saja ditarik ke atas, masih ada hubungan kekerabatan. Keduanya sama-sama keturunan Prabu Darmasiksa dari jalur isteri yang berbeda, terpaut tiga generasi. Dan sejatinya, pernikahan tersebut diniatkan untuk mengencangkan kembali tali silaturahmi yang dirasa sudah melonggar.

Continue reading “Ksatria yang Terlupakan”

Advertisements

Bukan Salah Haji Syaichon

Dengan modal 30 ribu perak, kita bisa makan-minum di warteg sebanyak 3-4 kali. Di sebuah food court di mall, mungkin bisa sekali. Di restoran cepat saji, dengan menu standar masih bisa sekali. Tapi untuk makan steak di sebuah restoran mewah, kalau tidak diusir keluar, paling beruntung dapat tusuk giginya saja.

Dan di Pasuruan sana, uang sejumlah 30 ribu diburu sekian banyak dhuafa, sebab cukup untuk modal makan sekian hari. Bukan untuk satu perut saja, tapi untuk perut-perut sebuah keluarga yang tak pernah mengenal yang namanya food court, fast food, apalagi rib eye steak. Bisa kita bayangkan, menu seperti apa yang biasa mereka santap sehari-hari. Tak perlu memikirkan kandungan gizi, manusia-manusia akrab derita ini bahkan tak mempermasalahkan hari-hari manakala tak ada menu apapun yang tersaji.

Continue reading “Bukan Salah Haji Syaichon”

Kita Pentung Saja Rame-rame

Tahun 9 H, empat belas pendeta nasrani utusan dari Najran mendatangi Rasulullah Saw yang saat itu sedang berada di masjid Nabawi. Mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat, bahkan diijinkan untuk melakukan ibadah di dalam masjid, meskipun secara tegas Nabi Saw menghendaki mereka untuk menanggalkan segala atribut kemewahan sebelum memasuki masjid, serta meminta mereka untuk menghadap ke timur dalam melakukan ibadahnya.

Setelah menyampaikan kekeliruan pandangan mereka tentang Yesus, Nabi pun memungkasinya dengan tantangan terhadap bantahan mereka yang menganggap Nabi berdusta.

Continue reading “Kita Pentung Saja Rame-rame”

Sajak Orang Sesat

Shalat sambil bersiul atau berbahasa Indonesia itu bukanlah sebuah bentuk kejahatan. Ia baru akan tidak sopan ketika siulan itu dilakukan tepat di depan hidung atau telingamu.

Ibadah yang dilakukan dalam bentuk nyanyian sambil menyulam juga bukan kejahatan. Ia jadi kurang ajar ketika yang disulam itu mulutmu yang kebanyakan bacot.

Menyembah secangkir kopi ngebul, silakan. Menyembah sop kambing, monggo. Menyembah tongseng ayam, terserah. Bahkan mau menyembah sepatu butut milik Gan Oded sekalipun tidaklah jahat, kecuali setelahnya dipakai untuk menimpuk kepalamu.

Continue reading “Sajak Orang Sesat”